Pengurang Pestisida Dorong Pertanian Berkelanjutan dan Ramah Lingkungan Inspirasi dari Pandawa Agri Indonesia

Home - Bussiness - Pengurang Pestisida Dorong Pertanian Berkelanjutan dan Ramah Lingkungan Inspirasi dari Pandawa Agri Indonesia

Bank Dunia memproyeksikan bahwa pembangunan pertanian dapat mengakhiri kemiskinan ekstrim, meningkatkan kemakmuran bersama, dan dapat memberi makan 9,7 miliar penduduk pada tahun 2050. Pertanian juga penting bagi pertumbuhan ekonomi dunia. Industri pertanian memberikan kontribusi sebesar 20% dari produk domestik bruto (PDB) global pada tahun 2020, dan di beberapa negara berkembang dapat menyumbang lebih dari 25% dari PDB. Di Indonesia sendiri, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), sektor pertanian memiliki dampak yang signifikan bagi perekonomian Indonesia dengan berkontribusi sebesar 15% dari total PDB Indonesia.

Saat ini, seperempat dari permukaan bumi sedang ditanami lebih banyak lahan yang diubah menjadi produksi tanaman. Di wilayah seperti Eropa, Amerika Utara, Australia, Brasil, Cina, dan India, penduduk semakin terampil dalam meningkatkan hasil pertanian menggunakan pupuk organik dan pestisida. Pestisida banyak digunakan dalam pertanian modern dan merupakan cara yang efektif dan ekonomis untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas hasil panen. Penggunaan pestisida global diperkirakan meningkat hingga 3,5 juta ton per tahun pada tahun 2020. Meskipun pestisida bermanfaat bagi produksi tanaman, penggunaan pestisida secara ekstensif dapat menimbulkan konsekuensi yang buruk. Penggunaan pestisida secara berlebihan secara langsung atau tidak langsung dapat mencemari udara, air, tanah dan ekosistem secara keseluruhan yang menyebabkan bahaya kesehatan yang serius bagi makhluk hidup.

Di Indonesia, kurang lebih 100 juta jiwa atau hampir separuh dari jumlah penduduk bekerja di sektor pertanian. Menurut BPS, total jumlah petani pada tahun 2020 ada sekitar 33,4 juta orang atau sekitar 12 persen dari total penduduk Indonesia, yang menunjukkan adanya ketergantungan negara pada sektor ini, ditambah dengan banyaknya peluang komoditas ekspor yang dimiliki oleh sektor pertanian Indonesia, seperti kelapa sawit, kakao, kopi, dan karet yang merupakan produk unggulan ekspor Indonesia. Selain itu, Sekitar 69 persen tanah Indonesia dikategorikan rusak parah lantaran penggunaan pupuk dan pestisida yang berlebihan, berdasarkan data Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Sebuah startup berbasis lifescience pertama dan satu satunya asal Indonesia, yaitu Pandawa Agri Indonesia berfokus pada pengembangan produk reduktan pestisida. Salah satu inovasi produknya adalah pada pestisida herbisida, dimana reduktan herbisida bekerja sebagai carrier untuk mengikat bahan aktif herbisida dan membantu mencapai lokasi target dengan dosis yang dikurangi hingga 50% dari dosis awal. Produk yang bernama Weed Solut-ion (WS) tersebut membantu aplikasi herbisida dapat bekerja secara maksimal sehingga bahan aktif herbisida tidak banyak terbuang ke bagian-bagian lain yang bukan merupakan tujuan utamanya. WS bukan merupakan herbisida sehingga tidak dapat digunakan secara tunggal atau tanpa dicampurkan dengan herbisida. Dengan harga eceran tertinggi (HET) Weed Solut-ion dapat berada di bawah HET pestisida di pasaran, maka dari itu tidak seperti kebanyakan produk ramah lingkungan lain yang cenderung memiliki tambahan biaya, penggunaan WS sebagai campuran dapat menghemat biaya perawatan pertanian atau perkebunan dari 10% hingga 40%.

Kukuh Roxa, CEO dan Co-Founder Pandawa Agri Indonesia mengatakan, “Sebagai industri yang memiliki peranan yang cukup besar dalam membantu kemajuan ekonomi negara, industri pertanian selama ini masih sangat bergantung pada bahan kimia berbahaya yang berpengaruh terhadap lingkungan dan konsumen, oleh karena itu kami dari Pandawa Agri Indonesia berharap agar inovasi dan produk kami dapat terus meningkatkan keamanan dan sustainability dari industri pertanian.”

Vivian Liwensky

Share:

Categories

Language