Blockchain dan Tantangannya di Indonesia

Kennedy, Voice & Berliner mengadakan Journalist Class mengenai Blockchain pada 25 Mei 2018 di Blockchain Space, Wisma Barito Pacific. Teknologi Blockchain terbilang baru dan belum banyak diterapkan di Indonesia, sehingga acara ini diharapkan dapat memberi pemahaman pada rekan media tentang teknologi tersebut.

“Blockchain is hard”  tulis Kenneth Destian Tali – pembicara dalam Journalist Class sebagai penutup materi, dan hampir seluruh jurnalis menyetujuinya. Kenneth sendiri mulai mempelajari Blockchain pada 2016 melalui sharing dengan sesama pegiat Blockchain di Indonesia dan membaca berbagai sumber, salah satunya dari platform medium.co. Dorongan untuk mempelajari Blockchain muncul dari keresahannya di bidang payment. Bidang tersebut memiliki banyak regulasi yang sulit untuk diubah, sehingga inovasi yang bisa dilakukan adalah pada infrastrukturnya.

Bersama Hanindyo Notohatmodjo yang saat itu hadir dan 7 orang lainnya, Kenneth membentuk Indonesia Blockchain Network (IBN). Kelompok ini merupakan komunitas untuk sharing mengenai Blockchain dan siapa saja bisa bergabung. Saat ini anggota IBN kurang lebih berjumlah 1000 orang. Selain IBN, di Indonesia juga terdapat Asosiasi Blockchain Indonesia (ABI). IBN terbentuk lebih dulu dari ABI dan ABI lebih fokus ke industri dan pemain bisnis yang ada di dalamnya, sedangkan IBN lebih fokus ke individual yang ada dalam komunitas tersebut.

Penerapan Blockchain di Indonesia tidak semudah yang diharapkan. Diungkapkan Kenneth bahwa kesulitan Blokchain di Indonesia adalah pada koordinasi berbagai pihak. “Sebenarnya di Indonesia yang jadi masalah bukan sektornya sih, tapi masalahnya kayak mengkoordinasikan beberapa party yang berbeda, kayak misalnya Bitcoin Network, kan semua orang bisa bergabung. Nah kalau ini kan kita mesti koordinasi sama satu dunia. Misalnya di Indonesia kita mau bikin, nah korrdinasinya tergantung dari industrinya misalnya di agriculture, kita harus koordinasi sama orang-orang agriculture seluruh Indonesia. And that’s the challenge ya menurut gue.” Ditambah dengan fakta bahwa teknologi Blockchain belum familiar di Indonesia. “Jadi masalahnya itu bukan dari technologically possible tapi lebih ke socio-politically possible kalau di sini”, lanjut Kenneth.

 

Share

Leave a Reply